Harga Daun Bawang Terjun Bebas, Petani di Magetan Menjerit

09 - Feb - 2026, 01:38

Harga Daun Bawang di Magetan Anjlok Drastis,

JATIMTIMES – Wajah Sumardi (45), seorang petani di kawasan Singolangu, Magetan, tampak lesu saat mengangkut daun bawang hasil panen dari ladangnya. 

Di balik hijaunya daun-daun tersebut, tersimpan kecemasan mendalam. Harapan meraup untung dari hasil jerih payah selama berbulan-bulan sirna, berganti kepasrahan akibat harga jual yang anjlok drastis dan menumpuknya hasil panen yang tidak terserap pasar.

Baca Juga : Dukung Program Gentengisasi Presiden Prabowo, Pemkab Magetan Hadapi Krisis Bahan Baku

"Bingung kami. Modal pupuk dan obat-obatan sekarang mahal, tapi harga jual malah terjun bebas," ujar Sumardi. 

Kondisi ini dialami oleh sebagian besar petani daun bawang di wilayah Magetan. Hanya dalam kurun waktu singkat, harga komoditas ini merosot tajam. 

Jika sebelumnya petani masih bisa tersenyum lebar dengan harga Rp7.000 per kilogram di tingkat tengkulak, kini mereka harus mengelus dada lantaran harga merosot menjadi hanya Rp4.000 per kilogram.

Lebih menyedihkan lagi, penurunan harga yang drastis ini dibarengi dengan sulitnya menjual hasil panen. Akibatnya, banyak daun bawang yang terpaksa dibiarkan tertumpuk begitu saja di pinggir ladang hingga akhirnya membusuk dan tidak layak konsumsi.

"Daripada dipanen tapi tidak ada yang beli, atau dibeli murah sekali tidak menutup ongkos kerja, lebih baik biarkan saja. Lama-lama ya membusuk di ladang. Baunya sudah menyengat ke mana-mana," keluh Sumardi. 

Menurut para petani, anjloknya harga dan menumpuknya stok dipicu oleh panen raya yang terjadi secara bersamaan di beberapa daerah penghasil daun bawang lainnya. Sementara itu, permintaan pasar cenderung stabil, mengakibatkan pasokan melimpah dan membuat harga di pasar tradisional rontok.

Baca Juga : Dukung Program Gentengisasi Presiden Prabowo, Pemkab Magetan Hadapi Krisis Bahan Baku

Akibat situasi ini, para petani tidak hanya kehilangan potensi keuntungan, tetapi juga mengalami kerugian modal yang cukup besar. Harapan kini digantungkan pada campur tangan pemerintah daerah maupun pusat untuk memberikan solusi konkret, baik berupa stabilisasi harga maupun bantuan akses pasar yang lebih luas.

"Kami hanya berharap pemerintah bisa membantu. Kalau harga terus begini dan barang menumpuk busuk, kami bisa gulung tikar," pungkasnya. 

Hingga saat ini, belum ada tindakan konkret dari pihak terkait untuk menyerap hasil panen petani. Jika kondisi ini terus berlanjut, kerugian ditaksir akan terus membengkak dan mengancam keberlangsungan musim tanam berikutnya bagi ratusan petani di Kabupaten Magetan.