Dolar Sentuh Rp 18.000, Ramalan Faisal Basri Dua Tahun Lalu Kembali Viral
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
06 - Jun - 2026, 12:19
JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah yang menembus Rp 18.000 per dolar AS membuat ramalan mendiang ekonom Faisal Basri kembali menjadi perbincangan. Video pernyataannya pada 2024 mendadak viral karena memprediksi rupiah bisa melemah hingga kisaran Rp 18.000-Rp 19.000 per dolar AS pada 2026.
Menurut Faisal, kondisi tersebut berpotensi membuat pemerintah menghadapi tantangan yang semakin berat dalam menjaga stabilitas ekonomi. Termasuk dalam menjalankan berbagai program belanja negara dan subsidi bagi masyarakat.
Baca Juga : Rupiah Jeblok, Harga Besi dan Baja di Lamongan Meroket
Dalam pandangannya kala itu, persoalan ekonomi juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik nasional. Ia menilai situasi akan semakin kompleks apabila tekanan ekonomi terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan politik di tingkat elite.
Faisal bahkan sempat mengaitkan kemungkinan tersebut dengan hubungan politik antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang menurutnya dapat mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.
"Prabowo akan meninggalkan Jokowi, Jokowinya akan kecewa dan semacamnya, mulai tension gitu. Nah kalau politik dan ekonomi nya nyatu, itulah krisis itu terjadi. Yang saya pikirkan paling lama 2026, makasih," ujar Faisal Basri dalam potongan video yang kini kembali viral.
Pernyataan tersebut diketahui disampaikan saat Faisal menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Komunitas Utan Kayu pada Mei 2024. Saat itu, ia membahas berbagai risiko ekonomi dan politik yang menurutnya perlu diantisipasi sejak dini.
Empat bulan setelah menyampaikan pandangan tersebut, Faisal Basri meninggal dunia pada September 2024 akibat serangan jantung.
Potongan video tersebut kembali viral sejak Jumat (5/6/2026), bertepatan dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang berada di level Rp 18.000 per dolar AS.
Kondisi itu membuat banyak warganet kembali mengingat prediksi yang pernah disampaikan ekonom senior tersebut. Sejumlah unggahan di berbagai platform media sosial bahkan menyebut prediksi Faisal sebagai salah satu peringatan yang kini kembali relevan untuk dibahas.
Baca Juga : Kalender Jawa Sabtu Wage 6 Juni 2026: Hindari Gelar Hajatan Besar Hari Ini
Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa prediksi ekonomi pada dasarnya merupakan analisis terhadap berbagai data dan kecenderungan yang berkembang pada saat tertentu, bukan kepastian yang akan terjadi secara mutlak.
Adapun dalam ilmu ekonomi, prediksi seperti yang pernah disampaikan Faisal Basri dikenal dengan istilah economic forecasting atau peramalan ekonomi.
Peramalan ekonomi merupakan metode untuk memperkirakan kondisi perekonomian pada masa mendatang dengan memanfaatkan data historis, tren pasar, indikator makroekonomi, serta berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi ekonomi suatu negara.
Melalui pendekatan tersebut, para ekonom biasanya mencoba memperkirakan sejumlah indikator penting, seperti pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB), tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar mata uang, hingga tingkat pengangguran.
Hasil proyeksi tersebut kemudian menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pemerintah, pelaku usaha, maupun investor dalam mengambil keputusan.
