Hadir Sejak 1935, Jajanan Tradisional Puthu Lanang Konsisten Goyangkan Lidah

Reporter

Irsya Richa

Editor

Dede Nana

30 - Mar - 2025, 08:11

Jajanan tradisional putu yang baru saja dibuat. (Foto: Irsya Richa/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kurang lengkap rasanya kalau ke Kota Malang tanpa menjajal jajanan tradisional. Salah satu tempat bernama Puthu Lanang ini bisa jadi jujukan, karena punya cita rasa dijamin bisa memanjakan lidah.

Puthu Lanang menyuguhkan beragam aneka macam jajanan tradisional seperti putu, cenil, klepon, tiwul, gatot, bledus dan lupis. Masing-masing jajanan ini dibandrol dengan harga sama. Yakni Rp 15 ribu perporsi. Lokasinya berada di depan gang kecil, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Hadir sejak 1935, setiap harinya tempat ini tak pernah sepi dari pembeli.

Baca Juga : Tradisi Unik Lebaran di Berbagai Negara, Ada Yang Dirayakan sampai 3 Hari

Bahkan hanya dalam hitungan jam ratusan porsi kue yang dijual ludes terbeli setiap harinya. Pemilik Puthu Lanang Endang Setyo Rini tidak memungkiri bahwa usaha yang dirintis oleh orang tuanya ini selalu ramai. Dibantu oleh beberapa karyawannya, Rini bisa menjual sekitar 500-600 porsi kue. Jajanan sebanyak itu bisa menghabiskan sekitar 100 buah kelapa dan tepung sebanyak 40 hingga kilogram.

“Buka kalau hari biasa itu mulai pukul 17.30 WIB sampai 21.30 WIB. Kalau hari puasa itu buka mulai 16.30 WIB sampai 21.30 WIB. Cuman kadang sebelum jam tutup udah habis duluan,” ujar Rini.

Berdiri sejak 1935, usaha  kuliner ini awalnya dirintis orangtuanya yakni Supiah dan Abdul Jalal. Karea itu usaha unu cukup terkenal baik di wilayah Malang Raya maupun luar kota. Terbukti, sejumlah pejabat hingga artis juga pernah mampir untuk menikmati jajanan legendaris satu ini.

Beberapa orang penting itu seperti Soeharto dan Megawati Soekarnoputri. “Kalau cerita dari orangtua saya itu Soeharto sebelum jadi Presiden pernah ke sini. Terus Megawati juga pernah kesini,” tambah Rini.

Baca Juga : Silaturahmi Ramadan, UIBU dan PWI Malang Raya Kirim Doa Para Pendahulu

Rini yang merupakan penerus generasi kedua mengatakan bahwa selain menjual perporsi. Dirinya juga menerima pesanan kudapan khas Jawa ini dalam bentuk tumpeng. “Kalau model tumpeng gitu biasanya pesanan dapat pagi dan saya kerjakan dirumah. Kalau bulan puasa gini banyak yang pesen buat bukber atau hajatan,” tutup Rini.