JATIMTIMES - Fasilitas dry fountain di Alun-alun Merdeka Kota Malang kembali menjadi perhatian publik. Wahana air yang baru diresmikan pada Januari 2026 itu sempat tidak berfungsi dan viral di media sosial setelah airnya tidak menyala.
Sorotan tersebut mencuat pada Rabu (4/2/2026) melalui unggahan akun Instagram @infomalang. Dalam unggahan itu terlihat dry fountain tidak mengeluarkan air, padahal area tersebut ramai digunakan anak-anak untuk bermain.
Baca Juga : Dari Lumbung Desa ke Bank Tabungan: Transformasi Keuangan di Hindia Belanda
Menanggapi viralnya video tersebut, Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, membenarkan adanya kendala pada dry fountain tersebut. Ia menyebut gangguan itu terjadi pada pekan lalu.
Penyebabnya, menurut Raymond, adalah sampah dan sisa makanan yang menyumbat aliran air. Dry fountain memang kerap dimanfaatkan anak-anak untuk bermain air, namun tidak sedikit yang membawa makanan ke area tersebut.
“Ya mungkin karena anak-anak kecil itu mandi-mandian sambil bawa makanan,” kata Raymond dikonfirmasi, Senin (9/2/2026).
Raymond menjelaskan, setelah mengetahui adanya sumbatan, petugas DLH Kota Malang langsung melakukan perawatan. Sampah-sampah yang menghambat aliran air dibersihkan sehingga fungsi dry fountain kembali normal.
“Sekarang sudah bisa. Memang sempat tidak bisa digunakan, tapi sekarang sudah bisa,” ujarnya.
Peristiwa itu menjadi bahan evaluasi bagi DLH Kota Malang. Ke depan, pihaknya berencana memasang papan pengumuman di sekitar area dry fountain. Papan tersebut berisi larangan membuang sampah sembarangan serta imbauan agar pengunjung tidak membawa makanan saat bermain air. “Nanti kita kasih papan pengumuman,” jelasnya.
Baca Juga : Tindaklanjuti Instruksi Presiden, Pemkot Malang Bredel Reklame Insidentil yang Semrawut
Selain masalah sampah, DLH Kota Malang juga menerima keluhan lain dari masyarakat, yakni munculnya bau pesing di sekitar dry fountain. Raymond pun tidak menampik adanya keluhan tersebut.
Ia menduga bau tidak sedap itu berasal dari anak-anak yang buang air kecil saat bermain di area dry fountain. “Itu sebenarnya tidak boleh. Ya jelas bau, karena disitu cuma boleh main air tapi mungkin karena bingung kebelet, akhirnya main air sambil kencing,” tuturnya.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Raymond mengungkapkan rencana penambahan pengeras suara di sekitar dry fountain. Pengeras suara tersebut akan menyampaikan pengumuman secara berkala agar anak-anak hanya bermain air sesuai aturan.
“Nanti tiap beberapa menit suaranya keluar untuk memberikan pengumuman itu, mas,” tuturnya.
