Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Berpotensi Tak Berbarengan, Ini Penjelasan BRIN

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

28 - Feb - 2026, 14:05

Placeholder
Potret ilustrasi bersalaman ilustrasi lebaran di Indonesia. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Umat Islam di Indonesia tahun ini memulai Ramadan 1447 Hijriah dengan perbedaan. Lantas, banyak yang mencari tahu tanggal berapa lebaran, termasuk ramai pertanyaan apakah Hari Raya Idulfitri 2026 juga berpeluang tidak dirayakan secara bersamaan?

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan ada potensi perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 H. Perbedaan itu dipicu oleh perbedaan kriteria penentuan hilal, baik secara regional maupun global.

Baca Juga : Heboh Dana Amil BAZNAS 2023-2024 Lebih Besar dari Fakir dan Gharimin, Mana Transparansi? 

Thomas menjelaskan, berdasarkan perhitungan astronomi, pada saat maghrib 19 Maret 2026, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria baru MABIMS.

Sebagai informasi, MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) mensyaratkan hilal dapat dinyatakan terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

“Pada saat maghrib 19 Maret 2026, di wilayah Asia Tenggara, Hilal belum memenuhi kriteria baru mabim. Maka 1 Syawal 1447 hijriah jatuh pada 21 Maret 2026 akan menunggu keputusan sidang isbat,” kata Thomas, dikutip Sabtu (28/2/2026).

Artinya, jika merujuk pada kriteria MABIMS yang selama ini digunakan pemerintah Indonesia, maka Idulfitri 1447 H berpotensi jatuh pada 21 Maret 2026.

Namun demikian, kepastian tanggal Lebaran tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.

Thomas menambahkan, perbedaan bisa terjadi jika menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Menurut kriteria ini, posisi Bulan telah memenuhi syarat karena ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru dan secara global sudah masuk kriteria awal bulan.

“Maka menurut kriteria KHGT, satu syawal 1447 hijriah jatuh pada 20 Maret 2026,” ungkapnya.

Baca Juga : Arus Balik Gratis 2026 Dibuka 1–15 Maret, Ini Rute dan Jadwal Lengkap dari Ditjen Hubdat

Perbedaan metode inilah yang berpotensi memunculkan perbedaan perayaan Idulfitri 2026.

Untuk diketahui, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 H. Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H yang dikeluarkan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki dengan rujukan KHGT. Berdasarkan metode tersebut, 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idulfitri ditetapkan jatuh pada 20 Maret 2026.

Dengan demikian, terdapat potensi perbedaan tanggal Lebaran 2026 antara pemerintah yang menunggu sidang isbat berdasarkan kriteria MABIMS dan Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab global.

Meski begitu, keputusan resmi pemerintah terkait Hari Raya Idulfitri 1447 H masih akan ditentukan melalui sidang isbat yang mempertimbangkan hasil rukyatul hilal serta data hisab secara nasional. Semoga informasi ini membantu ya. 


Topik

Peristiwa Idulfitri brin jadwal lebaran Thomas Djamaluddin



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lamongan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa