JATIMTIMES - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang memelopori sebuah terobosan akademik melalui proyek riset kolaboratif berskala internasional yang menggandeng sejumlah institusi besar. Kerja sama ini melibatkan UIN Syekh Wasil Kediri, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Di bawah payung besar Cultural Ecopedagogy and Educational Management (CEEM), para peneliti berupaya merumuskan standar baru dalam pengelolaan pendidikan berkelanjutan dengan membedah perbandingan pola edukasi di Indonesia, Jepang, hingga Australia.
Baca Juga : Pemkot Malang Tegaskan Program RT Berkelas Tetap Jalan Meski Diperketat
Akademisi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Maliki Malang, Angga Teguh Prastyo, M.Pd., yang menjadi penggerak utama dalam kolaborasi ini, menekankan bahwa riset tersebut bukan sekadar pengumpulan data statistik.

Menurutnya, ada urgensi untuk membawa praktik baik di lapangan ke dalam kurikulum pendidikan tinggi. Ia melihat bagaimana inovasi seperti ATM Sampah di MTsN 2 Sukoharjo mampu mengubah perilaku siswa secara signifikan melalui pendekatan teknologi dan karakter.
"Penelitian ini kami rancang untuk memperkuat materi perkuliahan Sistem Manajemen Pengelolaan Lingkungan Pendidikan bagi mahasiswa MPI. Harapannya, hasil temuan ini tidak hanya berhenti di jurnal, tetapi menjadi referensi praktis yang nyata bagi pengembangan model pengelolaan lingkungan sekolah," ungkap Angga Teguh Prastyo saat menjelaskan relevansi riset tersebut dengan dunia akademik di UIN Malang.
Di sisi lain, keberhasilan implementasi budaya hijau di sekolah mitra juga tidak lepas dari manajemen kurikulum yang solid. Sishadi, selaku Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, menegaskan bahwa membangun kesadaran ekologis memerlukan napas panjang dan keterlibatan kolektif.
Ia menjelaskan bahwa pihak madrasah secara berkelanjutan merangkul guru, siswa, hingga partisipasi orang tua untuk menyukseskan program seperti kader lingkungan dan integrasi Pojok Kependudukan bersama BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional).
Baca Juga : WFH 2026 di Depan Mata, Ini 5 Bocoran Aturan yang Sedang Disiapkan Pemerintah
Proses pengambilan data yang dimulai sejak 10 Maret 2026 ini menyisir berbagai lembaga pendidikan inspiratif di Jawa Tengah dan Yogyakarta, termasuk Sekolah Tumbuh dan Sanggar Anak Alam (SALAM).
Sementara itu, tim peneliti yang diperkuat oleh pakar seperti Prof. Dr. Hj. Munifah, Dr. Intan Nuyulis Naeni Puspitasari, Dr. Nila Zaimatus Septiana, dan Ahmad Abdun Salam, optimistis bahwa sinergi lintas kampus ini akan melahirkan model CEEM sebagai jawaban atas tantangan pendidikan global yang lebih humanis dan peduli pada masa depan bumi.
