Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Lingkungan

Musim Kemarau 2026 di Jawa Timur Diprediksi Lebih Kering dan Mundur, Waspada Dampak El Niño

Penulis : Mutmainah J - Editor : A Yahya

14 - Apr - 2026, 19:45

Placeholder
Ilustrasi musim kemarau. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Timur memprakirakan musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur akan berlangsung tidak seperti biasanya. Selain datang lebih lambat di sejumlah wilayah, musim kering tahun ini juga diprediksi lebih panjang dan memiliki intensitas kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Kondisi tersebut berkaitan erat dengan potensi kemunculan El Niño pada pertengahan 2026. Fenomena ini dikenal mampu menekan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, sehingga menyebabkan curah hujan menurun secara signifikan, terutama di wilayah selatan seperti Jawa Timur.

Baca Juga : Kabar Baik! ITB Resmi Buka S2 AI, Ini Cara Daftar dan Prospek Kerja Menjanjikan di Era Digital

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang disampaikan melalui akun resmi @infobmkgjuanda, sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur diperkirakan akan mengalami curah hujan di bawah normal. Artinya, mayoritas daerah akan menghadapi musim kemarau yang lebih kering dari biasanya.

Kondisi ini tentu membawa konsekuensi besar, terutama bagi daerah-daerah yang selama ini bergantung pada curah hujan untuk kebutuhan pertanian dan sumber air. Wilayah tapal kuda, Madura, hingga sebagian Mataraman berpotensi mengalami tekanan kekeringan yang lebih tinggi.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, sebanyak 53 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur diperkirakan mencapai kondisi paling kering. Ini menjadi periode kritis yang perlu diwaspadai karena biasanya beriringan dengan peningkatan suhu udara, penurunan kelembapan, dan minimnya hujan.

Selain itu, sekitar 46,2 persen wilayah di Jawa Timur diperkirakan mengalami keterlambatan awal musim kemarau. Artinya, meskipun kemarau datang lebih lambat, durasinya justru berpotensi lebih panjang dari biasanya.

Tak hanya mundur, durasi musim kemarau juga diprediksi lebih panjang di sekitar 39 ZOM. Hal ini semakin diperkuat dengan peluang munculnya El Niño yang mencapai 50–60 persen pada pertengahan tahun.

Kemarau panjang ini berpotensi memicu berbagai dampak, di antaranya:

• Penurunan produksi pertanian, terutama padi yang sangat bergantung pada ketersediaan air

• Krisis air bersih, khususnya di wilayah rawan kekeringan seperti Madura dan daerah pesisir

• Meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat kondisi kering dan angin kencang

• Gangguan kesehatan, seperti dehidrasi dan penyakit akibat udara kering dan panas

Menghadapi potensi kemarau panjang ini, BMKG mengimbau seluruh pihak untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Di sektor pertanian, petani disarankan:

• Menggunakan varietas padi berumur pendek dan tahan kekeringan

• Menyesuaikan kalender tanam dengan prakiraan cuaca

• Beralih ke tanaman palawija seperti jagung, kedelai, atau kacang tanah yang lebih tahan kondisi minim air

Sementara itu, masyarakat umum juga dianjurkan untuk:

- Mengoptimalkan penampungan air hujan selama sisa musim hujan

- Menghemat penggunaan air bersih

- Menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan

- Pemerintah daerah juga diharapkan mulai menyiapkan langkah strategis seperti distribusi air bersih, pembangunan embung, hingga penguatan sistem peringatan dini bencana kekeringan.

Di balik tantangan yang muncul, musim kemarau panjang juga membuka peluang ekonomi, khususnya bagi petani garam. Cuaca yang lebih kering dan panas dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam rakyat.

Baca Juga : AS Mulai Blokade Laut Iran, Ini Cara Kerja, Tujuan, dan Dampaknya bagi Dunia

Selain itu, sektor energi surya juga berpotensi lebih optimal karena intensitas sinar matahari yang tinggi selama musim kemarau.

Dengan memahami prediksi sejak awal, masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan dapat mengambil langkah yang tepat untuk meminimalkan dampak negatif musim kemarau 2026.

Kesiapsiagaan, adaptasi, serta pemanfaatan peluang menjadi kunci utama dalam menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih ekstrem akibat pengaruh El Niño tahun ini.


Topik

Lingkungan bmkg jatim elnino prediksi cuaca kemarau jatim



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lamongan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

A Yahya

Lingkungan

Artikel terkait di Lingkungan