JATIMTIMES - Sorotan terhadap anggaran pemerintah kembali ramai diperbincangkan. Kali ini datang dari influencer sekaligus praktisi teknologi, Abil Sudarman, yang mengklaim menemukan sejumlah pengadaan janggal di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Temuan itu diungkap melalui sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang ia kembangkan sendiri. Sistem tersebut diklaim mampu mendeteksi pola pengadaan yang dinilai tidak wajar dari berbagai instansi, mulai dari tingkat kota, kabupaten, provinsi, hingga kementerian.
Baca Juga : Upaya Damai Kasus Suamiku Ternyata Perempuan, Keluarga Tolak Dugaan Tawaran Uang
“Kalian lihat ini, ini dashboard early warning system untuk pengadaan-pengadaan aneh di seluruh Indonesia. Ini lihat ada dari kota, provinsi, kabupaten, dan kementerian,” ujar Abil dalam video yang diunggah di media sosialnya, dikutip Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, sistem tersebut bekerja dengan analisis AI dan telah dibuka aksesnya ke publik, termasuk kalangan akademisi. “Ini pake AI ya, semua dianalisa pake AI, nanti kalian bisa buka,” lanjutnya.
Abil bahkan menyebut bahwa proyek tersebut tidak bisa dihentikan karena sudah dibagikan secara luas. “Jadi gak ada gunanya untuk nge-stop gue. Karena aksesnya udah gue share ke publik, dan kuncinya udah gue kasih ke para peneliti di universitas-universitas top di Indonesia,” katanya.
Dalam temuannya, Abil menyoroti beberapa pengadaan yang disebutnya “absurd”, terutama di lingkungan Komdigi. Salah satunya terkait biaya pemeliharaan akuarium hingga ratusan juta rupiah.
“Pemeliharaan akuarium lantai 7. Akuarium apa ini 153 juta?” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan logika anggaran tersebut, termasuk lokasi dan fungsi fasilitas yang dimaksud. “Area kerja pimpinan, area kerja ibu (menteri) kah? Jadi ikan apa yang hidup di akuarium ini? Kenapa bisa 150 juta ini, biaya pemeliharaan ini? Mahal sekali ini,” sambungnya.
Selain itu, Abil juga menyoroti anggaran sewa tanaman hias yang nilainya mencapai miliaran rupiah. “Sewa tanaman hias di lantai 7. Ada apa sih di lantai 7 Komdigi ini? 1 miliar guys, di rumah dinas menteri dan ruang Pak Wamen,” katanya.
Ia bahkan menyindir besarnya anggaran tersebut dengan perbandingan yang tidak biasa. “Gue rasa dia bikin garden by the bay itu yang kayak di Singapura tuh, tanaman semua tuh. Itu tanamannya apa? Dia nyembuhin kanker tanamannya?” ucapnya.
Sebelum mengungkap dugaan pengadaan janggal ini, Abil mengaku sempat mengalami serangan digital usai mengkritik Komdigi dalam kasus berbeda.
Ia menyebut serangan terjadi tak lama setelah mengunggah video terkait lowongan kerja yang dinilai bermasalah karena membuka akses data pribadi pelamar.
“Serangannya itu berupa denial of service,” kata Abil.
Serangan tersebut menyasar situs startup miliknya, ordal.id, dengan membanjiri platform itu menggunakan ribuan lowongan kerja palsu berbasis AI.
“Total ada 16 ribu lebih loker palsu yang disebarkan ke situs ordal.id kepada 53 ribu pengguna situs. Jadinya ini luar biasa terganggu,” ungkapnya.
Baca Juga : Dugaan Korupsi Dana Pokir DPRD Magetan Naik Penyidikan, Aktivis Desak Kejari Segera Umumkan Tersangka
Menurut Abil, pola serangan yang terjadi cukup canggih dan berbeda dari serangan biasa. “Tapi kalau saya lihat ini memang ingin merusak saja. Data yang dicuri enggak ada, yang disandera enggak ada. Kita enggak diminta imbalan apa-apa. Jadi murni menghancurkan saja,” ujarnya.
Tak hanya situs, akun media sosialnya juga sempat menjadi target. Ia mendeteksi adanya upaya login dari perangkat yang tidak dikenalnya.
“Ada login dari handphone-handphone yang bukan hp saya ya. Ada Xiaomi, ada iPhone 13 Pro Max yang mana bukan hp saya itu,” katanya.
Sebelumnya, Abil juga mengungkap temuan terkait lowongan kerja di Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi. Dalam pengumuman tersebut, pelamar diminta mengunggah data pribadi melalui tautan yang ternyata mengarah ke Google Drive dengan akses terbuka.
“Masalahnya adalah semua pelamar datanya kelihatan di Google Drive ini. Semua foldernya nih keliatan nih nama-namanya nih. Jadi lo mau ngelamar, lo bisa buka data pribadi milik pelamar lain. Kelihatan, telanjang semua bisa dibuka,” kata Abil.
Temuan ini memicu kritik karena dinilai berpotensi melanggar prinsip perlindungan data pribadi, mengingat dokumen yang diunggah mencakup informasi sensitif seperti KTP, ijazah, hingga transkrip nilai.
Unggahan terbaru Abil soal dugaan anggaran janggal ini pun langsung menuai perhatian publik di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran di instansi pemerintah.
Abil sendiri menjelaskan bahwa apa yang ia lakukan bukan sekadar kritik, melainkan upaya kolektif untuk mendorong transparansi.
“Saya cuma orang IT, saya cuma orang AI yang bisa melanjutkan perjuangan dari ini semua adalah kalian semua,” katanya.
Ia pun mengajak publik untuk ikut mengawasi. “Saya titipkan ini semua kepada kalian, dan mari kita akhiri semua pesta-pesta ini,” tutup Abil.
