Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Mitos Pantangan Bulan Suro Bikin Pasar Lokal Sepi, Bunga Potong Kota Batu Masif Terserap ke Luar Pulau

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Dede Nana

05 - Jul - 2026, 11:38

Placeholder
Ilustrasi. Salah satu pengusaha bunga potong di Kota Batu.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Para pembudidaya tanaman hias di Kota Batu kini bisa bernapas lebih lega saat memasuki momentum bulan Muharram atau Suro dalam penanggalan Jawa. Dampak dari mitos pantangan menggelar pesta yang biasanya memicu penurunan omzet dari kebutuhan dekorasi secara drastis, kini berhasil teratasi dengan permintaan luar pulau yang masih tinggi.

Kelesuan pasar di dalam Pulau Jawa terselamatkan berkat adanya lonjakan permintaan yang datang dari luar daerah serta maraknya momen kelulusan sekolah. Supplier Bunga Potong Kota Batu, Jumadi, menjelaskan bahwa dinamika pasar pada musim Suro tahun ini menunjukkan tren yang jauh lebih positif dibandingkan periode sebelumnya.

Baca Juga : Dinilai Ancam Supremasi Sipil dan Demokrasi, Koalisi Aktivis Desak Hentikan Pembentukan Batalyon Teritorial TNI

Jika pada tahun lalu banyak hasil panen kelopak bunga yang terpaksa dibuang akibat tidak laku, kondisi kali ini justru berbanding terbalik.

"Kalau Suro tahun lalu itu benar-benar sepi, sampai banyak bunga yang terpaksa dibuang karena tidak terserap. Tapi tahun ini kita agak lega karena momennya bertepatan dengan persiapan Hari Raya Galungan di Bali dan musim kelulusan sekolah," ujar Jumadi saat ditemui, belum lama ini.

Berdasarkan kalkulasi terkini, tingkat penurunan serapan untuk pasar lokal di Pulau Jawa saat ini berada di kisaran 60 persen. Angka kelesuan tersebut tercatat jauh lebih baik daripada histori musim Suro tahun lalu yang sempat terpuruk hingga menyentuh angka 80 persen.

Artinya, para petani di Kota Wisata ini mengalami kenaikan volume penyerapan pasar yang cukup signifikan, yakni sebesar 20 persen. Bergeraknya roda ekonomi ini dipicu oleh kalender adat di Pulau Bali yang tidak terikat oleh pakem mitos bulan Suro seperti halnya masyarakat Jawa.

Menjelang perayaan Hari Raya Galungan, warga di Pulau Dewata justru banyak memanfaatkan hari baik untuk menyelenggarakan ritual keagamaan besar serta pesta perkawinan. Faktor kebudayaan inilah yang membuat jalur ekspedisi pengiriman bunga dari Kota Batu menuju Bali tetap berjalan intensif hampir setiap hari.

Selain Bali, wilayah luar pulau lain yang menjadi jujukan utama pengiriman komoditas mawar dan krisan asal Kota Batu adalah Kota Medan.

Baca Juga : Soroti Politik Uang dan Hoaks, Lilik DPRD Jatim Serukan Penguatan Literasi Politik

Pria asli Desa Bulukerto tersebut membeberkan bahwa untuk pengiriman luar pulau, bunga akan dikemas ke dalam boks berkapasitas besar yang memuat sekitar 500 tangkai per dus.

Isi di dalam kemasan tersebut merupakan produk campuran, mulai dari tanaman krisan, dedaunan hias penunjang dekorasi, hingga bunga mawar dari berbagai macam tingkatan kualitas.

Sementara untuk sisa serapan di pasar domestik Jawa yang sedang minim hajatan nikah, sisa produksi dialihkan untuk menyuplai sektor seremonial keagamaan. Maraknya agenda pengajian umum, santunan anak yatim, hingga kebutuhan buket untuk prosesi wisuda sekolah dinilai sangat efektif dalam menyerap hasil petik petani.

Kondisi pasar yang relatif aman ini juga membuat nilai jual bunga di tingkat petani di Kota Batu tidak sampai anjlok. "Harganya juga masih stabil di angka Rp 2 ribu per tangkai," pungkas Jumadi.


Topik

Ekonomi tanaman hias pembudidaya tanaman hias kota batu suro



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lamongan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Dede Nana

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi