Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Doa Seorang Nabi yang Memohon Kelancaran Bicara Saat Menghadapi Manusia Zalim

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

15 - May - 2026, 10:49

Placeholder
Ilustrasi Nabi Musa yang berdoa memohon kelancaran berbicara kepada Allah SWT untuk menghadapi Firaun(ist)

JATIMTIMES - Kemampuan berbicara dengan baik merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT. Karena itulah Nabi Musa AS pernah memohon secara langsung kepada Allah agar diberikan kelancaran lisan saat menjalankan dakwah menghadapi Fir’aun, penguasa zalim yang sombong dan mengaku sebagai tuhan.

Kisah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an dan hingga kini doa Nabi Musa AS sering diamalkan umat Islam ketika menghadapi ujian, berbicara di depan umum, berdakwah, belajar, hingga menjalani berbagai urusan penting.

Baca Juga : Kurikulum Digital Social Work Dinilai Mendesak, AI Ubah Arah Pelayanan Sosial di Era Digital

Dalam Al-Qur’an, Nabi Musa AS disebut sebagai sosok pilihan Allah SWT. Hal itu dijelaskan dalam Surah Maryam ayat 51-53 yang artinya, “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami).”

Menurut keterangan dalam kitab Qashashul Anbiya dan Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Katsir, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk menemui Fir’aun dan menyerunya kembali ke jalan yang benar. Perintah itu tertuang dalam Surah Thaha ayat 24: “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas.”

Tugas tersebut bukan perkara ringan. Fir’aun dikenal memiliki kekuasaan besar dan sangat kejam terhadap rakyatnya. Di sisi lain, Nabi Musa AS juga menyadari dirinya memiliki keterbatasan dalam berbicara sejak kecil. Karena itu, beliau tidak hanya mengandalkan kemampuan diri, tetapi memohon pertolongan kepada Allah SWT agar diberikan kelapangan hati dan kemudahan dalam menyampaikan dakwah.

Doa Nabi Musa AS kemudian diabadikan dalam Surah Thaha ayat 25-28: Arab latin: Rabbisyrahlī shadrī wayassirlī amrī wahlul ‘uqdatan min lisānī yafqahū qaulī.

Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.”

Doa ini tidak hanya berisi permohonan agar lancar berbicara, tetapi juga harapan agar hati menjadi tenang serta segala urusan dipermudah oleh Allah SWT. Karena maknanya yang mendalam, doa tersebut kerap diamalkan sebelum pidato, presentasi, mengajar, maupun ketika menghadapi persoalan berat dalam kehidupan.

Para ulama menjelaskan bahwa Nabi Musa AS memang memiliki gangguan pada lisannya. Dalam salah satu riwayat yang dinukil Ibnu Katsir, diceritakan bahwa saat masih bayi Nabi Musa pernah menarik jenggot Fir’aun. Perbuatan itu membuat Fir’aun murka dan berniat membunuhnya.

Baca Juga : 4 Wisata Religi Kristiani di Malang yang Cocok Dikunjungi Saat Kenaikan Yesus Kristus

Namun Asiah, istri Fir’aun yang dikenal beriman kepada Allah SWT, menenangkan suaminya dengan mengatakan bahwa Musa masih bayi dan belum memahami apa yang dilakukannya. Untuk membuktikannya, Fir’aun lalu meletakkan dua benda di hadapan Musa kecil, yakni buah dan bara api.

Atas kehendak Allah SWT, tangan Nabi Musa diarahkan malaikat untuk mengambil bara api lalu memasukkannya ke dalam mulut. Sejak peristiwa itulah lidah Nabi Musa mengalami gangguan sehingga ucapannya menjadi kurang fasih.

Meski demikian, Nabi Musa AS tidak meminta kesempurnaan kepada Allah SWT. Beliau hanya memohon agar kekakuan lisannya dikurangi sehingga dakwahnya dapat dipahami oleh kaumnya. Sikap ini menjadi pelajaran bahwa seorang hamba tetap harus rendah hati dan berserah diri kepada Allah atas segala kekurangan yang dimiliki.

Allah SWT kemudian mengabulkan doa Nabi Musa AS sebagaimana disebutkan dalam Surah Thaha ayat 36, "Allah berfirman: Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa.”

Kisah Nabi Musa AS juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan dakwah dan perjuangan tidak hanya bergantung pada kemampuan manusia, tetapi juga pada pertolongan Allah SWT. Rasulullah SAW pun bersabda, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar.” Hadis ini mengajarkan bahwa setiap kesulitan dapat dihadapi dengan ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT.


Topik

Agama kisah nabi musa as doa kelancaran lisan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lamongan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri